Labels

Sabtu, 09 Februari 2013

Ketika Etnis China Meng-Indonesia

 
Doeloe (etnis) China dikenal dan terkenal sebagai salah satu etnis tertutup dan mengelompok di Indonesia. Zaman cepat berubah dan kini (etnis) China di Indonesia pun menjadi kelompok terbuka dan berbaur alias (tengah ) meng- "Indonesia". Terutama berawal sejak era reformasi (1999) bergulir, dimana Gus Dur ( Kiai Abdurrahman Wahid), Presiden Ketiga RI membuka keran selebar-lebarnya tentang bagaimana sebenarnya makna hakiki ke Indonesiaan itu didalam praktik berkehidupan, berbangsa dan bertanah air.

Pra Presiden Gus Dur, dimana orang masih ragu dan merasa alergi, katakanlah menyoal menampilkan dan mempertunjukkan seni asli China seperti "barongsai". Padahal , sebenarnya, kalau disimak historinya, kalau soal keteladanan dan kepahlawanan, di zaman pra kemerdekaan (penjajahan) saja, terbilang cukup banyak cerita/kisah etnis China yang memiliki jiwa kepahlawanan. Membela Indonesia, terutama jika kita ikuti sejarah Betawi, baik dalam film-film maupun komik-komik versi Betawi (Batavia/Jakarte/Jakarta).

Sifat, makna dan perilaku ke-Indonesiaan mana tampaknya semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya tatkala terdapat cukup banyak etnis China yang memiliki jabatan penting di pemerintahan, seperti menjadi menteri. Tercatat nama-nama seperti Kwiek Kian Gie, mantan Menko Perkenomian Era Megawati Soekarno Putri, lalu Marie Elka Pangestu, yang kini masih menjabat Menteri Pariwisata dan Kreatif.

Terutama pasca Basuki Tjahaja Purnama atau A Hok yang terpilih dan atau dipilih rakyat Jakarta menjadi Wakil Gubernur DKI pada Oktober 2012 lalu , bahwa tampaknya orang beretnis China semakin mengalami kemajuan, baik didalam kualitas berpikir dan berwawasan kebangsaan, khususnya di dalam bersosialisasi dan meng- Indonesia.

Bahkan di Sumut khususnya di Medan bahwa keberadaaan etnis China menjadi begitu melambung dan berkibar tatkala seorang putra asli China Sofyan Tan menjadi salah satu calon walikota Medan dan secara mengejutkan masuk keputaran kedua , meski kala itu (Juni 2010) secara elegan harus mengakui keunggulan Rahudman Harahap yang terpilih dan hingga saat ini masih menjadi/menjabat Walikota Medan.

Dimana Sofyan Tan, kini merupakan Ketua TS (Tim Sukses) salah satu pasangan Calon Gubsu-Wagubsu dari PDIP yakni Effendi Muara Sakti Simbolon dan Jumiran Abdi yang akan bertarung pada 7 Maret 2013 mendatang dan berpangkalan di Medan.

Plesetan Humor

Yang membuat menjadi sangat menarik adalah ketika beberapa waktu lalu dan waktunya malah hampir bersamaan, dimana penulis membaca salah satu surat kabar regional Sumut tentang berdirinya sebuah perhimpunan yang dinamakan dengan Batin (Batak-Tionghoa), dan lalu mendapatkan sms (short messege service) melalui hand phone seorang famili terdekat yang tinggal di Batam yang berjudul : "China-Batak Go International " , dengan memplesetkan dan menghumoriakan antara bahasa China dan bahasa Batak.

Materinya : bahwa dalam rangka menyambut Gong Xi Fat Chai telah ditetapkan ikatan China dan Batak dengan menemukan korelasi antara bahasa Mandarin dengan bahasa Batak yaitu sebagai berikut: Pendahuluan = Tha Moe Lai, Adek = Ang Gie, Kakak = Ang Kang, Paman = Toe Lang, Istri Paman = Nan Toe Lang, Kapan = An Dhi Khan, Kemarin = Nan Thoa Rhy.

Tadi = Nan Khin Ing, Sekarang = Xao Na Rhy, Kedinginan = Man Cay Nga Lie, Pergi ke Pesta = Mha Khan Chak Chang, Banyak Gaya = Xie Than Mie, Abu Arang = Xie Rha Boen, Orang yang dibenci = Xie Tha Fu Leong, Berbicara = Mhang Kha Tay, Ingus = Mhon Mhon Mie, Kesakitan = A Mhang Oei , Permisi = Chan Tha Bie, Penutup = Ng Acay Bei

Etnis China : Keberadaan dan Ketika Meng-Indonesia

Bahwa pasal 26 (1) UUD 1945 menyebutkan, yang menjadi warga negara adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan UU sebagai WNI (Warga Negara Indonesia). Orang-orang bangsa lain, peranakan Belanda, Tionghoa (China), Arab, dan lain-lain yang bertempat tinggal dan berkedudukan di Indonesia, mengakui Indonesia sebagai tanah air-nya serta bersikap setia kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dapat menjadi WNI.

Dimana makna ke-Indonesia-an sebagaimana disebutkan didalam UUD 1945 tidak pernah dan tidak mengenal perilaku/praktik diskriminatif terhadap setiap warganya. Karena pasal 27 ayat 1 (UUD 1945 Pasca Amandemen ) menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa segala warga negara : "sama" kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali.

Dalam arti, tidak memandang suku, agama, ras/etnis dan golongan, dan memiliki kesempatan sama untuk dapat menduduki berbagai jabatan didalam pemerintahan dan non pemerintahan. Baik sebagai bupati, walikota dan atau gubernur serta jabatan lainnya. Termasuk untuk menjabat presiden, sangat terbuka peluang, tentu dengan catatan sesuai mekanisme dan peraturan perundangan yang berlaku.

Sehingga tepat sekalilah Gus Dur, si bapak bangsa, dimana jika menilik arti harfiah Indonesia yang berasal dari kata : "Indo" = campuran (peranakan/bermacam-macam/beraneka ragam), "nesia" = bangsa, dimana Indonesia berarti : "bangsa indo", bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras atau etnis dan golongan, merasa sangat bersyukur dan wajar sajalah jika kini etnis China semakin "merajalela" (dalam arti positif) , yakni telah membaur alias meng-Indonesia.

Utamanya di dalam hal bersosialisasi atau pergaulan kemasyarakatan dan atau di dalam perkawinan (campuran). Ada perkawinan antara Batak (lelaki) dengan China (wanita) dan China (lelaki) dengan (wanita) Batak. Ada juga Jawa (lelaki) dengan China (wanita) dan China (lelaki) dengan Jawa (wanita), Papua (lelaki) dengan China (wanita) dan China (lelaki) dengan Papua (wanita) yang dikenal dengan istilah "Perancis" atau "Peranakan China Serui (Papua), dan lain-lain.

Jika persatuan dan kesatuan (antar etnis, agama, dan lain-lain) dijaga dan dipelihara betul, maka cita-cita Indonesia kembali menjadi bangsa besar, dihormati dan disegani oleh hampir seluruh negara di belahan dunia yang pernah dialami dan dirasakan bangsa Indonesia bukan lagi sekedar isapan jempol belaka. Baik dibidang ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan lainnya.

Dimana perilaku para pejabat dan atau menteri-menterinya pun yang nota bene sebagai pembantu presiden, rata-rata berkualitas, baik di ucapan maupun di tindakan. Sehingga berpengertian, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bebas dari korupsi, bukan sebaliknya, bebas (para pejabatnya) melakukan korupsi/manipulasi (uang negara/rakyat).

Juga sejatinya sudah tidak perlu ada lagi dikotomi-dikotomian, Sipil-non Sipil, Sikaya-Simiskin, Pejabat-Non Pejabat, Islam – Non Islam, China – Non China, Batak- Non Batak, Jawa-Non Jawa, dan lain-lain, apalagi praktik/perilaku tawuran dan berbagai konflik (fisik maupun non fisik) sosial, dimana makna Indonesia akan menjadi : "Enak dikamu, juga enak di saya ". Oleh karenanya, marilah kita sama-sama menikmati rasa enak dan nyaman tersebut ! (bahasa Jawa : "Sawang Sinawang").

Harapan

Sehingga jika diabreviasikan dalam singkatan kata maka Cina menjadi : C = Cinta I = Indonesia N = Nyaman dan A = Aman. Dalam arti, jika kita cinta Indonesia, maka hidup kita bukan hanya sekedar aman, tapi juga nyaman dan bahagia atas dasar empat pilar berbangsa, yakni UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Dimana Suku, Agama, Ras dan Antar-glongan (SARA) bukan lagi sebagai kendala dan atau penghalang, namun sudah menjadi alat perekat dan pemersatu, yakni berbeda-beda tapi satu (Bhineka Tunggal Ika). Tentu dengan mengenyahkan jauh-jauh rasa ke-aku-an (egoisme/egocentris ) dan pengertian/penafsiran "picik"/sempit terhadap ajaran agama, pergaulan kesukuan, ke-etnis-an dan ke-antar-golong-an pasca memakan obat penjaga persatuan dan kesatuan, yakni empat pilar berbangsa dan bertanah air sebagaimana tersebut di atas.

Bahwa makna Indonesia menjelang hari kemerdekaan ke 68 tahun Indonesia (17 Agustus 2013) bukan lagi semata kebebasan fisik (bertindak dan berperilaku), namun juga sudah merupakan kebebasan non fisik (rohani dan atau jiwa) yakni bebas dari berbagai rasa takut dan khawatir.
Sumber : http://www.analisadaily.com/news/read/2013/02/09/106342/ketika_etnis_china_mengindonesia/#.URYCTqBg3IU

0 komentar:

Poskan Komentar

Berikan kritik, saran, atau pesanmu untuk artikel ini. Terimakasih telah membaca!